Senin, 25 September 2017

PROGRAM KARTU TERNAK MENUJU PENDATAAN TERNAK YANG AKURAT DAN UP TO DATE

salah satu peternak memperlihatkan kartu ternaknya


Ketika saya bercerita tentang kartu tani yang baru-baru ini diberlakukan di beberapa kabupaten utamanya provinsi Jawa Tengah, ada salah seorang penyuluh peternakan bercerita tentang program pemerintah yang tidak kalah menariknya, yaitu kartu ternak. Sangat aneh menang jika setiap ternak memiliki kartu tanda pengenal layaknya kita yang memiliki KTP, tetapi coba bayangkan jika program ini sukses terlaksana pasti data ternak yang ada akan menjadi valid. Sekarang kita kesulitan untuk menentukan jumlah ternak yang ada secara tepat. Memang ada sensur pertanian dan peternakan yang mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut, tetapi datanya tidak up to date sehingga data acuan kadang menggunakan hasil sensus yang telah berlangsung beberapa tahun lalu. Kan jadi bahaya jika kita salah melaporkan, misalkan kebutuhan daging saat lebaran dengan jumlah ternak yang kira-kira siap potong. Kalau datanya keliru bisa brakibat naiknya harga daging atau masuknya daging impor yang menyebabkan penurunan harga daging dari peternak local. Sederhana memang tapi dampaknya sangat besar, jika data sapi bisa diketahui secara up to date maka jalannya roda pembangunan tentu akan lebih baik dibandingkan dengan mengacu pada data yang telah kadaluarsa. Dari membayangkan saja saya sangat tertarik, kemudian apa itu kartu ternak, berikut penjelasannya :
Kartu ternak adalah tanda bukti kepemilikan ternak terutama ternak sapi dan kerbau. Fungsi dari karu ternak adalah untuk pemenuhan kebutuhan daging konsumsi bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan peternak, dan bagi pemerintah adalah memudahkan dalam mendapatkan data peternak dan ternak  secara akurat, yang terdiri dari populasi (jenis, jumlah, sebaran, produksi, stok), kepemilikan (rumah tangga peternak, jumlah, jenis, status, asal) dan tingkat mutasi (penjualan, kematian, pemotongan), serta meningkatkan pengawasan.
Besarnya nilai aset ternak masyarakat sebagai mana tersebut diatas, selama ini belum/ tidak mendapat legalitas kepemilikan oleh pemerintah. Legalitas kepemilikan ternak sangat diperlukan untuk menjamin status dan melindungi hak milik warga masyarakat, seperti  barang berharga dan hak milik lainnya. Legalitas kepemilikan ternak, bagi masyarakat/peternak adalah sangat penting selain melindungi hak miliknya juga akan berguna untuk pengakuan / agunan dalam mengakses permodalan kepada lembaga perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

Adapun manfaat yang didapatkan dari kartu ternak antara lain :
1.       Sebagai bukti sah kepemilikan ternak
Tujuan dari kartu ternak jika dilihat dari hal tersebut adalah hampir sama dengan BPKB (buku kepemilikan kendaraan bermotor) pada kendaraan bermotor. Jika peternak sudah mengantongi kartu ternak ini maka kepemilikannya sah secara hukum. Yang merupakan bukti sah diperoleh dari hasil pembelian atau hasil budidaya. Selain itu karena sudah ada bukti sah kepemilikan dari ternak, maka jika ada pencurian maka dapat diantisipasi dengan adanya data pendukung berupa kertu ternak tersebut.
2.      Sebagai dokumen mutasi: jual beli, pengiriman antar daerah, dan pemotongan
Kartu ternak menjadi dokumen yang ikut disertakan dalam setiap kegiatan mutasi sehingga jumlah ternak juga dapat diawasi secara tepat.
3.      Memudahkan pelayanan kesehatan ternak
Setiap informasi kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan akan ditulis dalam kartu ternak, jadi kartu ternak seperti rekam medis ternak. Ini sangat bermanfaat untuk mengetahui kejadian sakit apa saja yang pernak dialami ternak serta penanganan-penangan kesehatan lainnya.
4.      Penelusuran keamanan pangan dan pencegahan penyakit
Jika ditemukan produk dari ternak terkontaminasi oleh penyakit yang bisa menular kepada manusia, maka dapat mudah ditelusuri asal dari ternak tersebut sehingga cepat dalam penanggulangan penyakit supaya tidak menyebar jauh.

Ada beberapa jenis kartu ternak bagi ternak sapi dan kerbau, yang terdiri dari :
1.       Kartu kelahiran ternak, diperuntukkan bagi ternak yang berumur di bawah 6 (enam) bulan
2.      Kartu ternak, diperuntukkan bagi ternak yang berumur diatas 6 (enam) bulan
3.      Kartu sementara untuk pedagang, diperuntukkan bagi ternak milik pedagang. Kartu ternak sementara dikeluarkan oleh pedagang serta dilampirkan pada saat penjualan ternak
4.      Kartu sementara, diperuntukkan bagi ternak yang berasal dari luar kabupaten setempat dan diperjualbelikan di pasar hewan kabupaten setempat. Kartu sementara untuk pasar dikeluarkan oleh kepala pasar hewan untuk selanjutnya disertakan dengan surat keterangan jual beli ternak.

Alur pelaksanaan kartu ternak adalah sebagai berikut
pelaksanaan kartu ternak

Dalam kartu ternak juga dituliskan beberapa ciri-ciri ternak  yang terdiri dari jenis ternak/bangsa, jenis kelamin, umur/tanggal lahir, nomor ear tag, warna bulu, tanduk, telinga, ekor, dan ciri khusus. Sehingga dapat membedakan antara ternak satu dengan yang lainnya.
Melihat dari sejarahnya sebetulnya dulu pada tahun 1970an sudah pernah dijalankan surat ijin bagi ternak-ternak yang akan di jual dengan meminta surat keterangan dari kepala desa setempat. Ternak yang tidak mengantongi surat ijin tidak akan bisa di jual karena di pasar hewan surat tersebut akan ditanyakan oleh petugas. Melihat dari fungsi kartu ternak seperti BPKB bagi kendaraan bermotor maka program tersebut haruslah disambut dengan baik sebagai bukti kepemilikan dan mempermudah dalam mengakses modal serta program lain dari pemerintah.
Kartu ternak juga merupakan bukti keseriusan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dengan perbaikan data yang baik, tepat dan akurat sehingga kebijakan pemerintah akan sejalan dengan kondisi di lapang. Memang pelaksanaannya tidaklah mudah karena terkendala beberapa permasalahan, antara lain sebagai berikut :
1.       Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat
2.      Masyarakat kurang antusias karena belum semua kabupaten melaksanakan
3.      Belum diterapkannya kartu ternak ke dalam kegiatan jual beli ternak, sehingga muncul anggapan di peternak dan pedagang yang memiliki maupun yang tidak memiliki kartu ternak memiliki nilai harga yang sama
4.      Adanya kekhawatiran kartu ternak terkait dengan pajak
5.      Petugas pencatatan sebagian besar adalah aparat desa, sehingga kurang focus karena adanya tugas lain yang terkait dengan pekerjaan sebagai perangkat.  



Terima Kasih Kepada google.com , google.co.id , Bing , Yahoo
from pemuda tani http://debbyeka.blogspot.com/2017/09/program-kartu-ternak-menuju-pendataan.html
Terima Kasih Telah membaca PROGRAM KARTU TERNAK MENUJU PENDATAAN TERNAK YANG AKURAT DAN UP TO DATE pada blog kami Bangsa Jurnal , semoga bermanfaat bagi kita semua

PENGOLAHAN TANAH PADA BUDIDAYA PADI



  1. Pengolahan Tanah Pada Lahan Sawah Irigasi (Pengolahan Sempurna)
Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah dan tekstur tanah) yang dihendaki oleh tanaman.
Pengolahan lahan sawah terdiri dari beberapa tahap:
a.      Pembersihan
1)      Selokan-selokan perlu dibersihkan untuk memperlancar aliran air irigasi yang masuk ke petak sawah.
2)     Jerami yang ada perlu dibabat untuk pembuatan kompos. Jerami ikut dibenamkan ke dalam tanah, lebih baik lagi jika ditaburi atau disemprot dengan decomposer agar pembusukannnya lebih cepat dan sempurna.
 
sisa-sisa jerami perlu dibabat untuk dijadikan kompos
b.      Pencangkulan
1)      Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak, fungsinya untuk memberishkan pematang dari gulma dan memperkuat pematang sehingga tidak jebol jika air yang masuk ke lahan cukup banyak, apalagi di musim penghujan. Pembersihan pematang juga berfungsi untuk mencegah hama tikus karena pematang yang bersih dengan sendirinya akan membuat tikus tidak nyaman untuk tinggal.
2)     Pembuatan saluran drainase, kegunaan dari saluran drainase ini adalah mengatur tinggi air dan kondisi air lahan. Lahan yang terlalu sering dialiri air/tergeenang akan membuat pertumbuhan tanaman padi terhambat
        
perbaikan pematang juga berfungsi untuk memperkuat pematang dan mengusir tikus
perbaikan pematang
c.       Pembajakan
1)      Memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah.
2)     Membalikkan tanah beserta tumbuhan rumput (jerami) sehingga akhirnya membusuk.
3)     Proses pembusukan dengan bantuan mikro organisme yang ada dalam tanah.
4)     Diinkubasi selama 1 minggu
5)     Menggunakan bajak rotari untuk melembutkan tanah untuk melumpur.
pembajakan dan pembusukan bahan organik
 
d.      Penggaruan
1)      Meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah
2)     Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar. Lumpur banyak mengandung bahan organik yang subur, jika hanyut maka akan mengurangi tingkat kesuburan lahan. Jika jumkah air yang ada di lahan terlalu banyak maka untuk mengaurangi airnya di buat saluran pembuangan pada lokasi tanah yang paling tinggi.
3)     Penggaruan yang dilakukan berulang kali akan memberikan keuntungan permukaan tanah menjadi rata, jika belum rata maka dilakukan perataan secara manual, lahan yang rata sempurna akan memudahkan dalam pengaturan air serta pengendalian hama utamanya orong-orong.
4)     Pelumpuran dari kegiatan penggaruan akan membuat air yang merembes ke bawah menjadi berkurang
5)     Sisa tanaman atau rumput akan terbenam, sehingga akan menjadi pupuk dan menghambat tumbuhnya gulma dalam jangka waktu tertentu
6)     Penanaman menjadi mudah
7)     Meratakan pembagian pupuk dan pupuk terbenam
perataan tanah
 
  1. Pengolahan Tanah Padi Gogo
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan 2 kali, pengolahan lahan pertama dilakukan pada musim kemarau atau setelah terjadi hujan pertama yang dapat melembabkan tanah dan yang kedua saat menjelang tanam. Cara pengolahan tanah dapat dengan dicangkul, atau menggunakan traktor/ ternak secara singkal, selanjutnya lahan dibiarkan. Bila sudah turun hujan kontinyu yang memungkinkan untuk tanam, lahan diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan sambil meratakan tanah sampai siap tanam.
Bila kondisi lahan berlereng sampai bergelombang, setelah pengolahan tanah pertama perlu dilakukan pembuatan teras gulud atau diadakan perbaikan teras yang rusak. Pada guludan atau bibir teras diusahakan menanam tanaman penguat teras berupa rumput unggul yang secara periodik dapat dipangkas untuk pakan ternak.
Pada lahan yang terbuka dan relatif datar perlu dibuat bedengan memanjang, dengan lebar bedengan sekitar 5 m dan antar bedengan dibuat saluran sedalam 20 m yang akan berfungsi sebagai saluran drainase.
  
  1. Penyiapan Tanpa Olah Tanah (TOT)
Penyiapan tanpa olah tanah (TOT) dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
a.      Dengan cara tebas
1)      Gulma atau rumput ditebas dengan tajak besar disaat lahan berair.
2)     Rumput dibiarkan terhampar membusuk selama 2 minggu, setelah itu digumpal dan dibiarkan dua minggu kemudian gumpalan dibalik lagi. Setelah gumpalan rumput membusuk seluruhnya, lalu gumpalan rumput tersebut dihamparkan secara merata pada seluruh permukaan petakan sumber hara tanaman.
3)     Setelah dibiarkan beberapa hari lahan siap ditanami  dengan bibit padi.

b.      Dengan cara Herbisida
1)      Sewaktu penyemprotan herbisida, petakan diusahakan tidak digenangi air, dengan demikian penyemprotan harus lebih awal sebelum hujan atau air pasang datang menggenangi petakan.
2)     Gulma dapat disemprot dengan herbisida non selektif seperti glivosat atau paraquat.
3)     Penyemprotan dilakukan lebih awal agar waktu tanam padi tidak tertunda karena menunggu gulma membusuk.
Manfaatnya adalah  dapat mengefisienkan tenaga kerja, dapat mengkonversi lahan sehingga degradasi atau tingkat penurunan kesuburan lahan serta munculnya keracunan besi dapat dikendalikan.

  1. Penyiapan Lahan Salin (Payau)
Pada umumnya lahan salin sangat cocok untuk tanaman kelapa dalam tetapi jika menggunakan sistem sorjan maka lahan bawah dapat dipersiapkan sebagai tempat penanaman padi. Varietas padi yang dianjurkan adalah varietas yang toleran.
Sistem pengelolaan lahan dan tata air merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian lahan pasang surut. Penyiapan lahan dengan pengolahan tanah memakai bajak singkal diikuti dengan rotari dengan traktor tangan di lahan pasang surut diperlukan selain untuk memperbaiki kondisi lahan menjadi lebih seragam dan rata juga untuk mempercepat proses pencucian bahan beracun. Bila tanahnya sudah gembur atau berlumpur dan rata, pengolahan tanah intensif tidak diperlukan tapi diganti dengan pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah (TOT) dikombinasikan dengan herbisida seperti Glyphosate dan Paraquat. Penggunaan herbisida Paraquat + Diuron dengan dosis 4 l/ha atau Paraquat + Diuron dicampur dengan 2,4-D amine dengan dosis 3 + 1,5 l/ha sebelum pengolahan tanah mampu menekan populasi gulma sampai 95% dan memberikan hasil padi tertinggi (Sundari, SST. cybex.pertanian.go.id)

Kesimpulan
Pengolahan Tanah pada lahan sawah irigasi terdiri dari beberapa tahap yakni ; Pembersihan, Pencangkulan, Pembajakan, dan Penggaruan.
            Penyiapan tanah Tanpa Olah Tanah (TOT)  dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara tebas dan penyemprotan herbisida. Manfaatnya adalah  dapat mengefisienkan tenaga kerja, dapat mengkonversi lahan sehingga degradasi atau tingkat penurunan kesuburan lahan serta munculnya keracunan besi dapat dikendalikan.
Sistem pengelolaan lahan dan tata air merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian lahan pasang surut. Penyiapan lahan dengan pengolahan tanah memakai bajak singkal diikuti dengan rotari dengan traktor tangan di lahan pasang surut diperlukan selain untuk memperbaiki kondisi lahan menjadi lebih seragam dan rata juga untuk mempercepat proses pencucian bahan beracun



Terima Kasih Kepada google.com , google.co.id , Bing , Yahoo
from pemuda tani http://debbyeka.blogspot.com/2017/09/pengolahan-tanah-pada-budidaya-padi.html
Terima Kasih Telah membaca PENGOLAHAN TANAH PADA BUDIDAYA PADI pada blog kami Bangsa Jurnal , semoga bermanfaat bagi kita semua

SYARAT TUMBUH TANAMAN PADI



1.       Tanaman Padi Sawah
a.      Iklim
Tanaman padi dapat hidup di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air.  Curah hujan rata-rata 200  mm per bulan, dengan distrubusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500-2000 mm.  Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 o C.  Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi sekitar 0-1500 m dpl.
b.      Tanah
Tanah yang baik untuk  pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jumlah yang cukup.
Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18-22 cm dengan PH antara 4-7.
Gambar 1. Lahan sawah yang dilengkapi dengan sistem irigasi

2.      Tanaman Padi Gogo
a.      Iklim
Padi gogo tumbuh baik di daerah dengan curah hujan 875 - 1000 mm per 3,5 - 4 bulan. Di Indonesia, curah dan periode hujan bervariasi, tidak hanya antar daerah tetapi juga di daerah itu sendiri. Curah hujan tahunan sebesar 1000 mm atau 200 mm/bulan selama pertumbuhan cukup memadai bagi tanaman padi gogo untuk berproduksi.
Curah hujan kurang dari 200 mm/bulan menyebabkan pertumbuhan terhambat. Adakalanya curah hujan harian menjadi lebih penting dibandingkan curah hujan bulanan atau tahunan. Curah hujan harian 200 mm menyebabkan tanaman mengalami stress karena kondisi lahan yang terlalu lembab ( moisture stress), dan tanaman menderita kekeringan bila tidak ada hujan selama 20 hari.
Padi gogo yang tumbuh pada musim berawan dan suhu 24-250C umumnya memberikan hasil yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan, makin tinggi intensitas cahaya matahari pada saat tanaman dalam pase reproduktif sampai pemasakan gabah, makin baik hasil padi gogo. Dilain pihak, intensitas cahaya matahari yang diharapkan mencapai 16,5 kcal/cm2 pada pase pengisian sampai pase pemasakan gabah jarang terjadi. 
b.      Tanah
Karakteristik lahan pada daerah pertanaman padi gogo cukup beragam sebagaimana halnya kondisi iklim. Tekstur tanah bervariasi dari pasir sampai liat, pH (kemasaman tanah) 3-10, kandungan bahan organik 1-50%, kandungan garam 0-1%, dan ketersediaan nutrisi bervariasi dari defisiensi akut sampai berlimpah.
Tekstur tanah mempengaruhi nilai kelembaban tanah melebihi sifat lainnya, kecuali tofografi. Tekstur tanah merupakan hal yang penting di areal pengembangan padi gogo yang tidak punya pengikat untuk menahan kelembaban. Profil tekstur tidak hanya dilapisan atas, tetapi juga di lapisan bawah. Jika bagian bawah tanah mempunyai cukup liat, maka fungsi tekstur lapisan atas menjadi berkurang.
Tanah grumusol dan andosol sangat peka erosi, sementara tanah mediteran merah-kuning dan regosol peka erosi. Litosol yang mempunyai solum dangkal dan biasanya berasosiasi dengan regosol, mediteran, dan grumusol dapat dikategorikan sebagai jenis tanah yang telah tererosi. Tanah aluvial berada di bagian lembah dan tidak terancam erosi. Tanah Planosol pada dataran rendah yang berombak mempunyai kesuburan rendah dan berpeluang tererosi. Di antara jenis tanah tersebut hanya latosol yang tahan erosi. 
Gambar 2 . Tanah yang sudah diolah
Gambar 3. Tanah yang teksturnya miring dibuat terasering, untuk mencegah erosi.

3.      Tanaman Padi Rawa Pasang Surut
Budidaya padi di lahan pasang surut/rawa memerlukan teknologi dan sarana produksi yang spesifik karena kondisi lahan dan lingkungan tumbuhnya tidak sama dengan sawah irigasi. Lahan pasang surut berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah dikenal masyarakat. Perbedaanya menyangkut kesuburan tanah, ketersediaan air dan teknik pengelolaannya. Pengelolaan tanah dan air ini merupakan kunci keberhasilan usaha tani di lahan pasang surut. Dengan upaya yang sungguh-sungguh lahan pasang surut ini dapat bermanfaat bagi petani dan masyarakat luas. upaya yang sungguh-sungguh lahan pasang surut ini dapat bermanfaat bagi petani dan masyarakat luas.
a.      Iklim
Keberhasilan budidaya padi di lahan rawa lebak sangat tergantung pada iklim, khususnya pada pola curah hujan, karena pada umumnya lahan rawa lebak sering mengalami kebanjiran. Kejadian banjir seringkali sulit diprediksi. Oleh karena itu, dalam budidaya padi di lahan rawa lebak, penentuan waktu tanam yang tepat sangat penting agar tanaman terhindar dari genangan. Pada saat curah hujan tinggi penurunan air terjadi secara lambat. Pada musim ini, keterlambatan tanam beresiko saat panen akan terjadi genangan air yang tinggi. Antisipasinya, diperlukan penggunaan varietas yang berumur pendek, agar pada saat panen belum terjadi genangan air.
b.      Tanah
Lahan rawa merupakan lahan marginal yang rapuh dan memiliki keragaman kondisi biofisik. Masalah biofisik utama dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut antara lain genangan air, tingginya kemasaman tanah (pH tanah rendah), terdapat kandungan zat beracun (Al, Fe, H2S dan Na), kandungan bahan organic rendah, kahat unsur hara, khususnya P, Ca, dan Mg dan kandungan Al, Fe, dan Mn tinggi. Kendala lainnya dalam budidaya padi di lahan rawa adalah penyakit tanaman, seperti Hawar Daun Bahteri (HDB), dan busuk pelepah.

Ekosistim lahan rawa memiliki sifat khusus terutama disebabkan karena kondisi airnya. Berdasarkan kondisi airnya, lahan rawa dibedakan dalam dua kelompok yaitu lahan rawa pasang surut dan lahan rawa lebak. Lahan rawa pasang surut yaitu lahan yang airnya dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut atau sungai. Sedang lahan rawa lebak yaitu lahan yang airnya dipengaruhi oleh hujan baik yang turun di wilayah setempat atau yang berasal dari daerah sekitar dan hulu.
Faktor air dan kesuburan tanah yang menjadi faktor pembatas utama budidaya padi sawah di lahan rawa sehingga hasilnyapun rendah (3-4 ton GKP/ha). Secara umum tanah rawa mempunyai pH rendah, kelarutan Fe,Al dan Mn tinggi, ketersediaan unsure hara makro (N, P dan K) dan mikro rendah. Kendala ini dapat diatasi dengan memberikan pembenah tanah (soil amelioration) seperti kapur/dolomite, serta aplikasi pupuk N, P dan K dengan mengacu tiga tepat (dosis, cara dan waktu) sehingga produktivitas tanah meningkat.
Lahan rawa sebagian besar terdapat di empat pulau besar di luar Jawa, yaitu Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta sebagian kecil di Pulau Sulawesi. Lahan rawa lebak merupakan salahsatu sumberdaya yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian tanaman pangan khususnya padi. Namun demikian pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Kendala utama pengembangan usahatani lahan rawa lebak adalah genangan maupun kekeringan yang belum dapat diprediksi. Selain tata air yang masih belum dikuasai, kendala lain adalah gangguan hama dan penyakit, faktor sosial ekonomi. Kendala tersebut dapat diatasi dengan penerapan teknologi yang tepat guna, di antaranya adalah penggunaan varietas unggul yang adaptif dan teknologi penataan lahan.
Meskipun lahan rawa terdapat cukup luas, sumbangan lahan rawa terhadap pengadaan produksi padi nasional masih kecil karena belum dimanfaatkan secara intensif. Berbagai permasalah yang dihadapi dalam pengembangan padi di lahan rawa sangat beragam, diantaranya 1) tingkat kesuburan tanah beragam, 2) penerapan teknologi budidaya belum optimal, 3) tersingkapnya lapisan pirit ke permukaan, 4) gambut dalam kondisi tebal dan mentah, 5) cekaman air dan penyusupan air laut, 6) Serangan hama dan penyakit tanaman. Selain aspek teknis, aspek nonteknis juga menjadi penghambat pengembangan pertanian di lahan rawa, antara lain minimnya infrastruktur seperti jalan dan transportasi, kelembagaan petani dan kelembagaan keuangan.
Gambar 4. Zona lahan rawa pasang surut

Kesimpulan
Tanaman padi sawah cocok pada iklim berhawa panas dan banyak mengandung uap air dengan curah hujan rata-rata 200 mm per bulan dengan distribusi selama 4 bulan.  Tanah yang untuk pertumbuhan padi sawah dengan kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jumlah yang cukup serta  pH tanah yang dibutuhkan berkisar antara 4-7.
Padi gogo tumbuh baik di daerah dengan curah hujan 875- 1000 mm per 3,5 - 4 bulan. Curah hujan tahunan sebesar 1000 mm atau 200 mm/bulan selama pertumbuhan cukup memadai bagi tanaman padi gogo untuk berproduksi. Curah hujan kurang dari 200 mm/bulan menyebabkan pertumbuhan terhambat. Adakalanya curah hujan harian menjadi lebih penting dibandingkan curah hujan bulanan atau tahunan. Curah hujan harian 200 mm menyebabkan tanaman mengalami stress karena kondisi lahan yang terlalu lembab ( moisture stress), dan tanaman menderita kekeringan bila tidak ada hujan selama 20 hari. Tekstur tanah bervariasi dari pasir sampai liat, pH (kemasaman tanah) 3-10, kandungan bahan organik 1-50%, kandungan garam 0-1%, dan ketersediaan nutrisi bervariasi dari defisiensi akut sampai berlimpah. Tekstur tanah merupakan hal yang penting di areal pengembangan padi gogo yang tidak punya pengikat untuk menahan kelembaban. Profil tekstur tidak hanya dilapisan atas, tetapi juga di lapisan bawah.
Faktor air dan kesuburan tanah yang menjadi faktor pembatas utama budidaya padi sawah di lahan rawa sehingga hasilnyapun rendah (3-4 ton GKP/ha). Secara umum tanah rawa mempunyai pH rendah, kelarutan Fe,Al dan Mn tinggi, ketersediaan unsure hara makro (N, P dan K) dan mikro rendah. Kendala ini dapat diatasi dengan memberikan pembenah tanah (soil amelioration) seperti kapur/dolomite, serta aplikasi pupuk N, P dan K dengan mengacu tiga tepat (dosis, cara dan waktu) sehingga produktivitas tanah meningkat. Penentuan waktu tanam yang tepat sangat penting agar tanaman terhindar dari genangan. Pada saat curah hujan tinggi penurunan air terjadi secara lambat. Pada musim ini, keterlambatan tanam beresiko saat panen akan terjadi genangan air yang tinggi. Antisipasinya, diperlukan penggunaan varietas yang berumur pendek, agar pada saat panen belum terjadi genangan air.




Terima Kasih Kepada google.com , google.co.id , Bing , Yahoo
from pemuda tani http://debbyeka.blogspot.com/2017/09/syarat-tumbuh-tanaman-padi.html
Terima Kasih Telah membaca SYARAT TUMBUH TANAMAN PADI pada blog kami Bangsa Jurnal , semoga bermanfaat bagi kita semua

Top